Pramuka Wujudkan Kemandirian dan Karakter Bangsa

 

Kegiatan Pramuka yang dilakukan Gerakan Pramuka Kwartir Ranting , yang salah satunya bertujuan membangun karakter dan kemandirian.

Hal ini merupakan amanat UU No. 12 Tahun 2010.

selengkapnya : seorang siswa sebuah sekolah terang-terangan mengatakan dirinya tidak tertarik untuk ikut kegiatan Pramuka. Imej-imej negatif yang menempel pada Pramuka, semisal hanya berkutat pada seputar tali-temali, camping atau api unggun, sehingga terkesan kuno rupanya telah menjangkiti generasi muda kita. Padahal jika dicermati, pramuka adalah kegiatan yang luar biasa. Pengaruh pramuka terhadap pembentukan kepribadian seseorang sangatlah besar. Karakter positif seseorang dapat dibentuk melalui organisasi pramuka. Ketakwaan, cinta alam dan kasih sayang, patriot dan ksatria, patuh dan suka bermusyawarah, rela menolong dan tabah, rajin, terampil dan gembira, dan semacamnya adalah nilai-nilai yang senantiasa diajarkan di dalam kegiatan kepramukaan. Begitu positifnya kegiatan pramuka, sayangnya belakangan ini terlihat adanya penurunan minat generasi muda terhadapnya.Secara kuantitas, Pramuka pernah mengalami lonjakan yang dahsyat, namun bersama melonjaknya jumlah anggota tersebut, justru kualitasnya semakin menurun. Banyak orang yang ikut Pramuka bukan karena kesadaran bahwa kegiatan itu akan memberikan manfaat bagi pembentukan karakter positif, namun lebih karena "dipaksa". Begitu boleh memilih, hampir tak tersisa lagi anggota yang bergabung. Karena asas kesukarelaan berubah menjadi kewajiban tanpa disertai tambahan keterampilan yang memadai, maka Gerakan Pramuka menjadi mandeg.             Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka serta Kode Etik-nya memang tak terbantahkan, bahwa Gerakan Pramuka mempunyai tujuan yang sangat mulia dalam membina generasi muda. Namun yang terjadi, sejak kejar target sejuta anggota, praktik gerakan ini menjadi berubah. Di sekolah-sekolah, Pramuka berubah menjadi sekadar gerakan memakai baju Pramuka setiap hari Jum’at atau Sabtu. Setelah itu tanpa ada upaya menambah wawasan dan keterampilan kepramukaan. Karena memakai baju Pramuka tanpa ujian dan keterampilan, maka kebanggaan sebagai anggota menjadi luntur, bahkan menghilang. Karena Pramuka menjadi tidak memiliki tantangan dan keterampilan, maka gerakan ini menjadi kehilangan fokus di benak anak muda. Akibatnya ia tak lagi menjadi denyut jantung anak muda.       

Merosotnya kualitas pembinaan di sanggar-sanggar Pramuka, membuat keberadaannya menjadi sekadar formalitas, sekadar menjadi pelengkap struktur di sekolah-sekolah. Kemandekan Pramuka yang sangat lama itu telah menyebabkan gerakan ini tidak menyadari telah kehilangan keterampilan dasarnya. Keterampilan-keterampilan dasar Gerakan Pramuka justru telah dimanfaatkan oleh anak-anak muda kita untuk lebih mendapatkan jawaban akan hasrat mudanya. Keterampilan kepramukaan seperti Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) secara khusus telah dimanfaatkan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR), baris-berbaris dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), pengetahuan kepolisian dimanfaatkan oleh anggota Polisi Sekolah, keterampilan hidup di alam bebas telah dengan baik dimanfaatkan oleh siswa pencinta alam. Inilah yang disebut misteri kehilangan. Para pembina, instruktur dan anggota Gerakan Pramuka tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan keterampilan dasarnya. Kemerosotan sanggar-sanggar pramuka juga disumbang oleh faktor keterbatasan dana juga minimnya jumlah Pembina. Tak jarang, karena kondisi ini terjadi penurunan kinerja tenaga pramuka.            

 Jika dicermati, menurunnya minat terhadap pramuka ini terjadi sejak era globalisasi, di mana begitu banyak persaingan ataupun daya tarik kegiatan dan organisasi lainnya yang lebih mampu menarik minat anak muda. Sebuah perubahan metode pendekatan dan bentuk kegiatan pramuka saat ini sangat diperlukan untuk menjadikan pramuka kembali disukai dan diminati. Yang lebih mungkin dihidupkan adalah pelebaran sayap kegiatan. Untuk itu, berbagai upaya peningkatan kualitas pembinaan, perluasan keterampilan serta pembenahan organisasi dan manajemen harus dilakukan. Gerakan Pramuka yang tanpa keterampilan dengan brand image yang lemah, perlu segera diselamatkan dengan jalan sesegera mungkin mengadakan reposisii dan revitalisasi. Reposisi bisa berarti: penempatan kembali ke posisi semula; penataan kembali posisi yang ada, dan penempatan ke posisi yang berbeda. Karena gerakan ini sudah kehilangan fokus pembinaannya sehingga ditinggalkan para kawula muda, maka kembali ke asas dan prinsip dasar gerakan semula merupakan langkah awal yang patut dipertimbangkan. Peningkatan kemampuan pembina dan instruktur perlu ditingkatkan secara mendasar dan mendalam. Kursus-kursus pembina dan instruktur itu semestinya bukan sekadar pembinaan mental di ruang-ruang kelas seperti yang sering dilakukan selama ini. Langkah awal ini adalah jalan agar para pembina dan instruktur di sanggar-sanggar mempunyai keterampilan dasar kepramukaan yang andal dan teruji, bukan sekadar bisa tepuk Pramuka atau menyanyi Di Sana Senang di Sini Senang. Karena kemahiran dan keterampilan dasar gerakan kepramukaan itu mutlak dikuasai oleh para pembina dan instruktur, maka para pembina dan instruktur itulah yang harus menjadi prioritas pembinaan dalam langkah pertama. Langkah kedua bila pembina dan instruktur sudah mahir dalam keterampilan dasar Gerakan Pramuka, maka anak-anak muda itu dilatih keterampilan-keterampilan dasar kepramukaan tersebut. Berlatih dan terus berlatih sehingga terampil dan mahir. Tanpa latihan yang baik, tidak akan ada keterampilan. Karena tak memiliki keterampilan, maka anggotanya tak akan mempunyai kebanggaan. Revitalisasi gerakan Pramuka merupakan langkah yang sangat bijaksana untuk bangkit dari keterpurukan. Revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatan kembali. Salah satu cara untuk merevitalisasi Gerakan Pramuka agar kembali ke prinsip-prinsip dasarnya adalah dengan cara membuat strategi pembinaan yang lebih menyeluruh. Pada awalnya seluruh siswa dibekali keterampilan dasar Gerakan Pramuka, namun tidak dalam kemasan baju Pramuka, seperti: baris-berbaris, P3K, cara hidup di alam bebas, dan lain-lain sampai tingkat terampil dan mahir. Setelah itu mereka diperbolehkan memilih wadah mana yang akan diikutinya setelah mereka diberi keterampilan dasar tersebut.            

Untuk itu peran seorang pembina pramuka perlu ditekankan kembali. Seorang pembina harus dapat mengarahkan anak bimbingnya dengan tekun dan intensif. Misalnya, dengan petunjuk yang detail, contoh yang baik, dan lain-lain. Pramuka akan tetap disenangi anak-anak muda jika pembina memiliki daya tarik khusus untuk mengemas kegiatan-kegiatan yang ada dengan lebih menarik dan lebih hidup. Pembina diharapkan kreatif melakukan kegiatan-kegiatan yang memancing minat generasi masa kini. Tidak hanya camping dan memancing, namun juga dimodifikasi dengan perkembangan teknologi dan minat anak seperti komputer, internet, dan lain-lain. Pramuka harus diformat ulang agar tidak kaku dan selalu dinamis dengan perkembangan zaman, tanpa harus kehilangan nilai luhurnya. Yang pasti, mereka bisa merasa lebih fun dan lebih tertantang pada kegiatan yang mereka ikuti.


Komentar
    Belum ada komentar..
Kirim Komentar
Pimpinan
Drs. DIDIN WAHIDIN, M.Si
Drs. DIDIN WAHIDIN, M.Si
Agenda Kegiatan
Statistik Pengunjung
  • Hari Ini : 130
  • Kemarin : 164
  • Total : 109964
Download
Layanan